Jatuh Bangun Guru Menjadi Konten Kreator

0

Oleh: Severianus Endi

Awalnya, saya mengira hanya kalangan tua yang menghadapi kendala dalam memanfaatkan teknologi digital. Maklum, mereka lebih lekat dengan beragam peralatan praktis yang tidak memerlukan terlalu banyak kecanggihan. Lagipula, fase perkembangan mereka sangat jauh berjarak dengan pesatnya pemanfaatan teknologi informasi seperti yang terlihat saat ini.

Seketika tanpa siapapun menyadari, pandemi muncul mengglobal, dan mengubah keseluruhan strategi pembelajaran. Ketika saya masuk ke komunitas para guru, segera saya menyadari masalah ini tak melulu dialami kalangan tua. Banyak guru muda, bahkan yang terbilang muncul dari kalangan milenial pun, tergagap-gagap menyesuaikan diri.

Sebuah Sekolah Dasar milik swasta di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pernah mengundang saya untuk berbagi keterampilan tentang pembuatan konten. Meski sebagai praktisi media, saya memang tidak merasa lebih pandai. Namun sedikit keterampilan bisa dibagikan, setidaknya untuk turut mewarnai dinamika konten mereka.
Membuat konten berupa video sudah saya tekuni jauh sebelum pandemi menerpa. Dari awalnya harus menggunakan kamera jenis DLSR dan mengeditnya harus menggunakan komputer, hingga menemukan segala kepraktisan itu melalui layar selebar telapak tangan. Ya, melalui telepon pintar berbasis android.

Pengalaman menjadi konten kreator untuk channel YouTube pribadi, maupun mengolah informasi untuk portal berita tempat saya bekerja, rasanya cukup untuk dibagikan. Selain itu, persepsi saya sebagai satu di antara kalangan orantua peserta didik, cukup signifikan untuk turut berkontribusi tentang bagaimana konten edukasi bisa dipersiapkan para guru.

Kegamangan Guru
Saat memberikan sesi pelatihan, saya lebih memperbanyak praktik. Sekadar teori praktis mengenai pengambilan gambar, komposisi, dan hal kecil lainnya cukup saya sampaikan sekilas. Saya berasumsi, para guru bisa menemukan sendiri informasi-informasi ini yang sesungguhnya berlimpah di internet.

Maka sesi praktik lebih saya dorong. Para guru ini saya ajak keluar kelas. Ke taman sekolah yang rindang. Di tempat itu, memotivasi mereka berkreasi, sejenak melepas diri dari “keterkungkungan” suasana kelas. Membiarkan beberapa saat mereka memanfaatkan suasana lingkungan sekolah yang asri untuk mendapatkan berbagai inspirasi.

Apa yang bisa saya temukan dalam proses ini? Kegamangan. Ya, sebagian besar guru terlihat gamang dengan kondisi ini. Bisa dimaklumi, bertahun-tahun mereka terbiasa membangun interaksi langsung dengan peserta didik, kini harus mengubahnya melalui media digital. Tidak semua orang memiliki keluwesan yang tinggi untuk menyesuaikan diri.

Sebagian kecil memang sudah menjadi konten kreator untuk channel YouTube pribadi. Juga, meski tidak untuk pubikasi, sebagian lainnya terbiasa membuat konten sebatas iseng-iseng. Namun situasi pandemi tidak memberi peluang untuk tawar-menawar. Dua tahun telah berlalu dengan kondisi yang belum ideal, maka kesadaran untuk menguasai pembuatan konten digital telah menjadi keharusan bagi setiap guru.

Saya mencoba memahami secara perlahan, apa gerangan masalah yang membuat mereka gamang dalam memproduksi konten edukasi. Ternyata lebih pada dua hal: kebiasaan dan keluwesan.

Dalam hal kebiasaan, tidak semua orang biasa memperlakukan file-file digital di dalam gawai-nya secara terarah dan terukur. Kebanyakan hanya memotret, merekam video seadanya tanpa konsep, dan menyimpannya di galeri. Kelak, jika storage gawai sudah penuh, ada yang merasa perlu memindahkannya ke komputer, ada juga yang langsung menghapusnya.

Di sini mereka pun perlu mendapatkan edukasi. Mulai memperlakukan file-file digital itu secara khusus. Jika perlu, menyimpannya dalam kategori yang memudahkan jika kelak sumber daya itu diperlukan. Misalnya, ketika dia hendak memotret atau merekam video, harus sudah tahu apa tujuannya, bagaimana komposisinya, dan lain sebagainya. Agar kelak jika diperlukan, file tersebut menjadi berdaya guna. Pandemi dan kewajiban membuat konten edukasi digital, harus mengubah pola pikir tentang bagaimana memperlakukan file-file tersebut.
Selain aspek kebiasaan, juga aspek keluwesan. Konten digital erat kaitannya dengan kreativitas, dan kreativitas memerlukan keluwesan. Saya tanyakan, mengapa bapak atau ibu guru tidak membuat konten yang menampakkan wajah? Para peserta didik pasti ingin melihat wajah Anda. Jawab dari sebagian mereka membuat saya terseyum: “Saya malu, Pak.”

Ya, rasa malu itu, saya pikir bagian dari keluwesan. Seseorang yang luwes, lebih mudah menghalau rasa malu. Konten edukasi bukanlah sesuatu yang bisa disejajarkan dengan artis atau selebgram atau pecandu media sosial yang gila pansos. Sangat berbeda. Kemunculan wajah guru dalam konten edukasi, apalagi untuk jenjang sekolah dasar, memiliki kekuatan tersendiri untuk memotivasi semangat belajar para peserta didik.
Para guru yang malu menampilkan wajahnya, lebih banyak hanya membuat konten yang datar dan tidak menarik. Misalnya membuat konten berupa presentasi visual berisi materi pelajaran, yang hanya dilengkapi suara sang guru, tanpa menampilkan sosoknya. Lebih parah, hanya merekam lembar-lembar halaman buku pelajaran sambil berbicara. Dan konten semacam ini sangatlah membosankan. Saya yakin, para peserta didik pun tak bakal antusias mencermatinya.

Saya mencandai mereka: “Konten seperti ini, seakan bapak-ibu guru berbicara dari balik pintu kelas, dan murid Anda tidak bisa melihat sosok Anda.”

Hanya dengan Gawai
Sebagai orang yang bekerja sehari-hari selalu memanfaatkan teknologi digital, memaksimalkan fitur-fitur yang ada dalam gawai bukanlah sesuatu yang aneh. Sebuah gawai berbasis adroid saja, sudah memadai untuk produksi konten sederhana. Kata kuncinya: konten sederhana. Maka jangan dulu terlalu berharap untuk mensejajarkan konten-konten edukasi sama dengan karya para konten kreator kawakan dengan alat yang mahal.

Memiliki gawai dengan kemampuan multimedia merupakan sesuatu yang mutlak. Mau tidak mau, sekarang kemampuan gawai menjadi perhitungan cermat. Memastikan RAM memadai untuk akselerasi berbagai aplikasi, sampai kemampuan storage yang mumpuni untuk penyimpanan data.

Maka sebelum memulai sesi praktik, saya mencandai para guru ini: “Kalau ada yang masih menyimpan film drama Korea di gawai, hapus dulu. Kosongkan storage. Kita mau rekaman dan edit langsung.”

Sebuah gawai yang memadai, sudah sangat cukup untuk merekam, memotret, mengedit, dan melakukan export project menjadi konten yang siap dipublikasikan. Baik dipublikasikan secara luas melalui flatform YouTube, atau secara terbatas hanya untuk peserta didik di kelas melalui Google Classrom.

Kepraktisan ini pun belum dipahami secara merata. Masih banyak yang terheran-heran bahwa hanya dengan gawai, sebuah video sederhana telah mampu diproduksi lengkap dengan berbagai aksesoris, ilustrasi, teks, sampai pada penambahan backsound. Padahal semestinya simpel saja. Begitu banyak aplikasi video editing yang tersedia untuk versi mobile. Tinggal apakah seseorang memiliki keuletan untuk memelajari penggunannya.

Menekankan Aspek Kreatif
Kreativitas kadangkala menjadi barang langka, bilamana seseorang terlalu dikejar target. Sekadar melayani kebutuhan kurikulum, bisa membuat guru lupa berimprovisasi. Padahal, apalagi untuk peserta didik setingkat sekolah dasar, improvisasi menjadi bagian dari usaha menarik perhatian mereka agar tetap fokus pada materi yang diajarkan.

Meski tidak harus seperti presenter televisi, saya memotivasi para guru ini untuk tidak malu menampilkan diri di dalam konten. Setidaknya, saat menyapa peserta didik, saat harus memeragakan suatu materi pelajaran, atau jika memungkinkan, tampil maksimal di seluruh durasi konten.

Di sinilah kerja kerasnya. Guru harus mampu “menerjemahkan” bahasa buku ke bahasa visual. Mengubah materi dalam buku pelajaran, menjadi materi dalam konsep bertutur. Peserta didik dalam usia sekolah dasar, pasti lebih tertarik kepada sesuatu yang dituturkan. Maka, manfaatkanlah peluang ini semaksimal mungkin.
Sekadar pelengkap teknis, guru cukup melengkapi gawainya dengan tripot sebagai penyangga. Sisakan komposisi video di sisi kiri atau kanan sebagai ruang kosong, agar saat melakukan editing, bisa leluasa menambahkan teks, ilustrasi, gambar, atau video dari sumber lain, untuk memperjelas materi.

Sejauh penjelasan semacam ini, memang terlihat sederhana. Untuk melakukannya? Banyak keluhan peserta tentang sulitnya mempraktikkan hal yang seharusnya simple ini. Solusinya hanya satu: membiasakan diri. Jika sudah terbiasa, ditambah keluwesan dan kreativitas, saya yakin semakin lama konten edukasi semakin menarik.
Contoh konten edukasi yang sangat menarik sebenarnya berlimpah ruah di internet. Namun, jangan sapai “kemapanan” konten-konten itu justru membuat ciut nyali mereka yang baru memulai. Kepercayaan diri harus dipupuk dengan tekun. Sebab, kini seorang guru tak lagi sekadar pendidik, tapi juga melebur dalam komunitas warganet dengan berbagai dinamikanya.

*) Penulis adalah praktisi media massa, lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tinggal di Pontianak.

Share.

Leave A Reply