Kualitas Proses Pembelajaran Daring

0

Oleh: Eusabinus Bunau, Ph. D.

Tidak sedikit orang yang meragukan kualitas pelaksanaan proses pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun ini. Proses pembelajaran dianggap ala kadarnya, jangan sampai dianggap tidak ada proses pembelajaran. Barangkali anggapan ini tidak juga salah, terutama bagi pendidik dan peserta didik yang sama-sama mengalami hambatan dan keterbatasan dari aspek infrastruktur untuk pembelajaran daring. Tetapi tulisan ini tidak akan membahas anggapan tersebut. Tulisan ini membahas tentang proses pembelajaran daring yang sesungguhnya, yang ideal. Pembelajaran daring yang sesungguhnya ini adalah pembelajaran daring sesuai dengan teori dan praktek pembelajaran jarak jauh dan e-learning yang telah cukup lama ada sebelum pandemi.
Proses pembelajaran daring tidak seluruhnya harus synchronous untuk bertemu muka secara langsung di layar laptop atau HP. Proses pembelajaran daring juga dapat diselengi dengan kegiatan yang asynchronous yang tidak bertemu muka. Daring bisa bermakna bertemu muka langsung dan mendengar suara tetapi bisa juga bermakna bertemu hanya dengan mendengar suara. Lebih jauh, daring ini bisa juga bermakna sebagai satu sistim untuk menyimpan, mengirim dan mengembalikan tagihan kegiatan pembelajaran. Sistim itu berfungsi menjadi ruang kelas dan perpustakaan arsip yang menyimpan dokumen kegiatan pembelajaran daring. Sistim tersebut menjadi adminsitrasi dan juga administrator kegiatan pembelajaran daring. Keseluruhan kegiatan bertemu muka, mendengar suara, berdiskusi serta menyimpan, mengirim dan mengembalikan tagihan kegiatan pembelajaran itu disebut sistim manajemen pembelajaran, atau learning management system (LMS). Nama aplikasi LMS tersebut bermacam-macam, misalnya Google Classroom (GC), Moodle, dan Blue Button. Berikut ini adalah sebagian kecil dari unsur-unsur yang dapat menjamin mutu pembelajaran daring.

1. Blended Learning
Blended learning diterjemahkan menjadi pembelajaran yang mencampurkan atau menggabungkan metode pembelajaran synchronous dan asynchronous. Metode pembelajaran synchronous bisa juga disebut metode pembelajaran secara bertemu muka langsung tetapi pertemuan berlangsung secara virtual. Kegiatan pembelajaran synchronous bisa diselenggarakan dari LMS, atau rekaman kegiatan pembelajaran bisa disimpan di LMS belakangan jika moda kegiatan pembelajaran synchronous terpisah dari LMS. Metode pembelajaran asynchronous sebaliknya adalah metode pembelajaran yang tidak bertemu muka secara langsung. Syarat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran asynchronous adalah harus ada LMS. Tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD) dan evaluasi pembelajaran bisa disimpan di LMS. Materi pembelajaran, LKPD dan evaluasi pembelajaran bisa diunduh dari LMS ini. Pendidik dan peserta didik harus sering-sering masuk ke LMS untuk berinteraksi dan untuk mengecek. Pendidik menyampaikan materi, LKPD dan soal evaluasi ke LMS. Peserta didik mengunduh materi, LKPD dan soal evaluasi dari LMS serta mengumpulkan dengan cara mengunggah jawaban LKPD dan jawaban soal evaluasi tersebut juga ke LMS ini. Intinya blended learning ini tetap daring, yaitu daring sebagai metode pembelajaran dan daring sebagai sistim manajemen pembelajaran.

2. Pembelajaran TPACK
Pendidik merumuskan strategi atau metode pembelajaran berbasis technological, pedagogical and content knowledge (TPACK). Unsur teknologi misalnya mengintegrasikan GC dalam LMS. Selama melakukan Google Meet (GM) atau zoom secara synchronous pendidik juga menggunakan sumber-sumber berbeda secara online dengan membuka window lain, membagikannya kepada peserta didik dalam kegiatan GM. Unsur integrasi teknologi tambahan misalnya menggunakan papan tulis dari GM dan menggunakan halaman forum diskusi dalam GC. Unsur pedagogical berkaitan dengan keterampilan mengajar, termasuk penguasaan dan pengelolaan kelas. Unsur muatan isi atau content berhubungan dengan penguasaan materi tentang suatu tema atau pokok dan subpokok bahasan. Unsur knowledge berhubungan dengan pengetahuan, baik tersurat maupun tersurat dari suatu materi. Dalam pembelajaran daring yang synchronous melalui GM atau zoom, pendidik menggunakan platform, media atau format. Misalnya bahan ajar dalam power point, LKPD dan assessment dalam aplikasi google form (GF), Kahoot atau PowToon.
Integrasi ini bertujuan untuk mengemas pembelajaran yang sesuai dengan kaidah pembelajaran jarak jauh, yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran serta mampu membuat pembelajaran efektif dan menyenangkan. Lebih lanjut, unsur terpenting dari TPACK ini adalah pedagogik, isi dan pengetahuan. Unsur teknologinya hanya merupakan media atau sarana untuk menyampaikan. Pembelajaran secara TPACK bukan hanya sekedar menayangkan, membagi dan mempertunjukkan. Pengamatan yang dilakukan penulis selama ini mengindikasikan bahwa pembelajaran TPACK ini memang tidak lebih dari sekedar hanya menayangkan, membagi, dan mempertunjukkan video, slide power point, dan penggunaan aplikasi media ajar. Pedagogik, isi dan pengetahuan yang disampaikan sangat sedikit. Mengajar sebagai pedagogi terasa hambar, penguasaan materi oleh pendidik kurang kelihatan, dan keterampilan mengajar kurang begitu nampak. Terlebih lagi, gesture atau gerak tubuh saat mengajar daring ini terlihat kaku, dan kesamaptaan seorang pendidik kelihatan kurang dijiwai.

3. Pembelajaran HOTS
Pembelajaran yang mencakup higher order thinking skills (HOTS) adalah pembelajaran yang mengarahkan dan mengembangkan keterampilan ranah HOTS, mulai dari tingkat analisis sampai tingkat kreasi atau mencipta. Keterampilan analisis adalah kemampuan untuk memperluas cakupan komprehensi terhadap apa yang tertulis dan tersirat dalam materi ajar, membuat hubung-kait pengalaman peserta didik dengan lingkungan sekolah, lingkungan sekitar, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Komprehensi analisis ini dapat dikembangkan dengan cara menanyakan pendapat peserta didik atas apa yang tertulis dan tersirat dalam materi pembelajaran. Pertanyaan komprehensi analisis ini bertujuan minimal untuk mengasah kemampuan peserta didik memberikan pendapat. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris misalnya, komprehensi analisis ini juga bisa secara sederhana berupa pertanyaan mengenai language feature dalam suatu teks.

4. Assessment sebagai proses dan sebagai evaluasi
Assessment atau penilaian berfungsi untuk melihat keterlibatan dan keterpahaman peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam evaluasi. Sebagai suatu proses, penilaian dapat dilakukan pada setiap proses pembelajaran. Penilaian proses ini boleh bersifat wajib, boleh bersifat sukarela. Jika bersifat wajib, maka penilaian harus terdokumentasi, dan jika bersifat sukarela, maka penilaian habis atau selesai sampai di situ setelah dibahas atau didiskusikan. Penilaian sebagai evaluasi harus dilakukan secara seksama, terukur, terdokumentasi. Dokumen penilaian bisa disimpan di Google Drive, di Clouds, di LMS dan di folder proses pembelajaran di laptop sendiri. Ketika sudah mencukupi, seterusnya bisa direkap menjadi laporan penyelenggaraan proses pembelajaran.

5. Memberi Feedback
Faktor penting untuk keberhasilan pembelajaran daring ini adalah memberikan feedback atau umpan balik untuk tugas-tugas yang dikumpulkan oleh peserta didik di dalam LMS. Memberikan umpan balik ini penting supaya peserta didik merasa diberikan perhatian, diberikan penguatan dan semangat. Apabila seluruh tugas diberikan umpan balik serta penilaian sebagai evaluasi dilakukan, maka LMS akan mendokumentasikan seluruh nilai, dan ketika diperlukan, pendidik tinggal mengunduh dan mentabulasi untuk menetapkan nilai akhir. Berapa banyak tugas atau kegiatan yang harus diberikan umpan balik? Semuanya. Oleh karena itu, perlu dipikirkan seberapa banyak tugas dan kegiatan yang diselenggarakan. Tidak banyak, tetapi diberikan umpan balik. Tidak banyak tetapi terukur. Tidak banyak tetapi petunjuk pengerjaan dan rubrik penilaiannya jelas.

6. Pembelajaran Project-based
Pembelajaran Project-based atau pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran mandiri atau independent learning. Seluruh pembelajaran yang dibuat secara proyek dikerjakan sepenuhnya oleh peserta didik. Oleh karena itu petunjuk, langkah-langkah mengerjakan pembelajaran berbasis proyek ini harus jelas, runtut. Misalnya untuk pembelajaran bahasa Inggris membaca teks yang di dalamnya ada kegiatan mengeja dan melafalkan. Petunjuk dan langkah-langkah pengerjaan pembelajaran proyeknya, misalnya, adalah:
1. Pilih satu dari 5 teks yang kalian sukai. Teksnya sudah ada di dalam LMS.
2. Kalian ditugasi untuk membaca teks tersebut secara lancar, kecepatannya tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
3. Sebelum membaca, pilih 10 kosakata dalam teks tersebut, yang kalian senangi.
4. Eja huruf dalam kata yang dipilih itu, kemudian lafalkan. Ulangi dua kali. Kesepuluh kosakata tersebut harus dieja satu persatu hurufnya, dan diulangi dua kali pelafalannya. Setelah itu baca teksnya, dua kali.
5. Cek cara mengeja di blablabla.com.
6. Cek cara melafal di blablabla.com.
7. Rekam/buat video kegiatan kalian mengeja, melafal dan membaca teks tersebut menggunakan kamera HP. Silahkan meminta bantuan ayah, bunda, adik, kakak, kakek, nenek untuk membantu memvideokan. Durasi videonya kurang-lebih 5-6 menit. Kalau lebih durasinya, silahkan mengeditnya.
8. Silahkan juga membuat efek suara/mixing audio videonya, yang sudah diedit tadi.
9. Silahkan dikirimkan link google drive-nya, atau youtube-nya di LMS.
10. Tenggat waktu pengumpulannya, tiga bulan sejak tanggal hari ini.
11. Selamat mengerjakan proyeknya, semoga lancar.
Melihat petunjuk dan langkah-langkah di atas, jelaslah bahwa walaupun bersifat mandiri, tetapi pembelajaran berbasis proyek ini bisa juga bersifat kolaboratif. Pembelajaran berbasis proyek juga bisa berarti pembelajaran kelompok. Berkolaboratif atau berkelompok dengan anggota keluarga, atau dengan teman-teman. Peserta didik lebih lanjut akan mencari informasi, mencari cara bagaimana mengedit video dan membuat mixing audio, bagaimana menaruh video di google drive atau clouds, dan bagaimana membuat akun Youtube dan menggugah videonya di sana. Seluruh proses itu menghasilkan trickle up effect, atau efek air mancur. Satu proyek menambah keterampilan-keterampilan lain. Silahkan membayangkan hasilnya, dan membayangkan kebahagiaan peserta didik atas usahanya yang berhasil.

(Penulis adalah Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar)

Share.

Leave A Reply