Kurikulum Merdeka Untuk Mendidik Keunikan Siswa

0

Oleh P. Adrianus, S.Si., M.Pd., Praktisi Pendidikan di SMP-SMA St.Fransiskus Asisi, Pontianak

Sekolah diartikan sebagai lembaga formal dengan tujuan menggodok generasi muda untuk memersiapkan diri mereka agar adaftif menyambut perkembangan zaman dan mengisi pembangunan. Pendidikan yang menyenangkan terletak pada proses pembelajaran yang menyentuh kedirian siswa.

Kurikulum Merdeka tahun 2022 (KM 22) mewajibkan kita mengenali karakteristik peserta didik (siswa) agar mudah dalam pendampingan pembelajaran. Mengenal kecerdasan peserta didik dan modalitasnya, sehingga guru menyiapkan strategi, evaluasi, dan model pembelajaran agar sanggup menyentuh keunikan siswa secara personal.

Paul Suparno memberikan cara pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan setiap individu. Beberapa alur pembelajaran untuk menjangkau nurani keunikan siswa. 1) mengenal inteligensi ganda siswa. Perlu survei kecerdasan ganda siswa. Hal itu ditambah lagi dengan survei gaya belajar sebagai modalitas. 2) persiapan mengajar dengan memokuskan diri pada topik tertentu, siapkan pendekatan, strategi, dan taktik dalam menyampaikan materi. 3) Fokus pada strategi dengan pembelajaran menyentuh keunikan siswa.

Kurikulum Merdeka

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran atau mata kuliah untuk diajarkan para peserta belajar. Penjelasan Kemendikbudristek, oleh Anindito Aditomo, “bahwa KM 22 telah diimplementasikan pada 2.500 sekolah yang telah mengikuti Program Sekolah Penggerak dan 901 SMK Pusat Keunggulan, dengan PBM dengan paradigma baru ini. Jika sekolah akan menggunakan KM 22 pada tahun pelajaran 2022/2023, maka sekolah wajib mendaftar hingga 30/3/2022, diterapkan pada TK B, Kelas I, IV, VII atau X.

KM 22 dikembangkan lebih fleksibel, berfokus pada materi esensial (penting) dan pengembangan karakter dengan Profil Pelajar Pancasila serta peningkatan kompetensi. KM 22 memiliki prioritas ada dua hal berikut. 1) pembelajaran berbasis proyek (Project bases learning) untuk mendidik soft skills dan karakter peserta didik yang diarahkan pada karakter pelajar Pancasila. 2) berfokus pada materi ajar yang penting-penting saja, sehingga ada durasi waktu yang cukup untuk mendalami untuk kompetensi dasar, misalnya literasi dan numerasi. Masih senada dengan K-13 yaitu siswa sebagai pusat atau subjek pembelajaran (student centred learning) disingkat SCL.

Kurikulum Merdeka diluncurkan pada 11 Pebruari 2022 itu, paling tidak ada tiga pilihan untuk implementasi KM 22 pada sekolah yang akan menerapkannya berikut. 1) beberapa bagian prinsip KM 22, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan, 2) dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan; 3) dengan mengembangkan sendiri perangkat ajar.

Ada dua bentuk kemerdekaan yang ditawarkan dalam KM 22 yaitu 1) sekolah dapat mengatur jam pelajaran sendiri dan 2) jenjang SMA tak ada penjurusan lagi. Dua hal itu kedengaran enak, tapi susah dijalankan, “ribet dan tidak realistis (Darmaningtyas, Kompas 14 Maret 2022)”. Senang hatiku mendengar adanya kemerdekaan, misalnya mengatur jam pelajaran sendiri. Tapi, akan sulit mengatur siswa pada jenjang SMA kelas XI.

Kelebihan KM 22, adanya fleksibilitas sekolah dalam mengatur jumlah jam mengajar dan belajar, sehingga menjadi opsional agar tercapai kemerdekaan sekolah dan guru. Ini kesempatan bagi pimpinan sekolah dan guru dibiasakan melakukan invoasi dan kreatifitas. Haruslah memilih sesuai dengan kepentingan sekolah. Jangan sampai terjadi jam mapelnya di semester ganjil ada, lalu tidak ada di semester genap. Terkait dengan jumlah jam wajib 24 guru-guru PPG.

Kelas 10 SMA siswa dipersiapkan untuk memilih rumpun mapel di kelas XI. Peserta didik mengikuti mapel wajib dan memilih rumpun MIPA, IPS, Bahasa atau Vokasi sesuai minat dan bakat tentu juga keinginan melanjutkan kuliah. Paling tidak memilih dari dua rumpun mapel. Ini akan menjadi persoalan, pelik.

Penulis sependapat untuk mengutamakan project based learning (PBL). Ada alokasi untuk PBL dalam setiap mata pelajaran. Misalnya, PPKn ada 3 jam, maka 2 jam untuk tatap muka, sedangkan 1 jam pelajaran untuk pembelajaran proyek. Sifat dari proyek itu bisa kolaborasi antar-mapel dengan mengutamakan relevansi.

PBL dilaksanakan minimal 3 kali dalam satu tahun. Ketika di kelas akhir yakni kelas 12, peserta didik membuat essay ilmiah sederhana sebagai syarat kelulusan dari jenjang SMA. Jenjang SMK, sebelumnya 60 persen teori dan 40 persen praktik, ditingkatkan menjadi 70 persen dan 30 persen.

PBL diutamakan penilaian proses dibandingkan penilaian hasil produknya. Ada langkah-langkah dalam menempuh tujuan pembelajaran, pelaksanaan proyek, dan pelaporan berupa presentasi hasil proyek. Diharapkan dengan seperti itu, kompetensi peserta didik “naik kelas”, kepercayaan dirinya “naik kelas”, dan kerjasama antar-anak bangsa juga meningkat, serta kebersamaan antar-golongan, antar-suku, dan antar-agama juga baik-baik saja.

KM 22 ini rasanya kurikulum penyempurnaan K-13. Untuk bisa mengendarai pada KM 22 ini harus berubah dulu paradigma kepala sekolah dan guru, juga peserta didik, merdekakan dari sisi filosofi maupun sumber daya dan sumber dana, utamanya sekolah swasta. Semoga tidak hanya sekadar ganti kurikulum, tapi lebih dari itu mengubah mindset yang mengendarai kurikulum ini dan penggunanya agar peserta belajar nanti sanggup mengisi kemerdekaan Indonesia.

Saat ini Pemerintah telah menetapkan sebanyak 142.663 sekolah yang melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) tahun ajaran 2022/2023 dengan tiga pilihan kategori yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi.

Jika memilih Mandiri Belajar, sekolah diberikan kebebasan untuk menerapkan Prinsip-Prinsip Kurikulum Merdeka beberapa bagian tanpa mengganti kurikulum yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan. Mandiri Berubah, sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pemerintah yang dapat diperoleh dari Platform Merdeka Mengajar atau media lainnya.

Sedangkan, jika sekolah memilih kategori ketiga, Mandiri Berbagi, sekolah diberikan keleluasaan untuk mengembangkan sendiri perangkat ajar yang akan digunakan dalam proses belajar dan mengajar. Kategori ketiga ini dikatakan telah mandiri, maka selanjutnya bisa berbagi kepada sekolah lain dan/atau ikut mengunggah perangkat mengajar pada Platform Merdeka Mengajar.

Mendidik Keunikan Siswa

Dalam proses belajar diperlukan sebuah metode jitu yang dipertimbangkan dengan matang. Tugas guru sebelum PBM adalah merencanakan dan merancang PBM tersebut, termasuk memilih metode yang cocok dengan diri peserta didik pada umumnya. Guru harusnya sudah mengetahui dominansi dari gaya belajar peserta didik di kelas yang akan diajarnya, sehingga dalam memilih metode tidak kesulitan.

Menentukan metode mengajar penting dilakukan sebagai guru profesional, karena akan membelajarkan peserta  didik sampai ke sanubari siswa bersangkutan. Belajar bukanlah suatu rutinitas, tapi suatu kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan sang guru maupun peserta didik.

Di dalam indera-indera tersebut terdapat saraf-sarat sensorik yang panjangnya ribuan meter tersambung di otak sebagai pusat sarafnya. Informasi yang berupa impuls tersebut tersimpan dalam memori otak yang berjumlah sekitar satu milyar sel. Impuls yang berupa rangsangan listrik tersebut akan bersarang di otak menempati sel khusus memori yang sewaktu dibutuhkan akan dikeluarkan dari file-filenya untuk keperluan yang bersangkutan.

Karena otak merupakan organisator megah dalam mengelola seluruh aktifitas yang dikehendaki, otak memiliki interkoneksi antar satu sel saraf (neuron) dengan neuron lainnya. Rajin belajar membuat interkoneksi makin banyak. Interkoneksi tersebut dinamakan sebagai sinapsis, artinya sambungan neuron. Makin banyak sinapsis, akan makin cerdas si pemiliknya. Dalam sinapsis terdapat neurotransmitter sebagai zat penghubung antar-neuron.

Susilo (2006; 69 – 92) dalam bukunya “Sukses dengan Gaya Belajar”, mengatakan bahwa faktor-faktor internal meliputi faktor jasmaniah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan. Sedangkan, faktor-faktor eksternal meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Ada banyak klasifikasi gaya belajar. Terdapat empat (4) kombinasi gaya belajar, yaitu 1) gaya diverger merupakan kombinasi antara perasaan (feeling) dan pengamatan (watching), 2) gaya assimillator, kombinasi dari berpikir (thinking) dan mengamati (watching), 3) gaya converger ialah gabungan antara berpikir (thinking) dan berbuat (doing), dan 4) gaya accomodator yaitu kombinasi antara perasaan (felling) dan tindakan (doing). Kita sebagai pembelajar harus sensitif dengan gaya belajar kita sendiri, sehingga sukses dalam kehidupan ini.

Pengelompokkan berikut dipengaruhi oleh temperamen, kebiasaan/habit, serta berkembang bersama waktu dan pengalaman, sehingga enam (6) gaya belajar, yaitu kolaboratif (berkelompok) – independen  (mandiri atau sendiri), tactile (suka pada gambar, diagram, dan banyak praktik) – verbal (sebaliknya verbal yaitu membaca atau menulis), persepsi konkrit (berdasarkan pengalaman) – analisa abstrak (menggali sendiri), auditori (mendengarkan) – visual (membaca), terstruktur (membutuhkan petunjuk) – tak terstruktur (tak beraturan), dan sprinter (dalam tekanan) – maraton (memerlukan persiapan secara matang untuk belajar).

Dari sekian banyak pengelompokkan yang biasa digunakan adalah tiga (3) modalitas dalam belajar yaitu auditori (menonjol pendengaran), visual (menonjol penglihatan), kinestetik (menonjol gerak), biasanya lebih suka belajar di luar kelas dan belajar olahraga. Dalam membelajarkan keunikan siswa, guru perlu memertimbangkan modalitas tersebut agar setiap pribadi dibelajarkan di sekolah formal.

Catatan Penutup

Kurikulum Merdeka tahun 2022 (KM 22) memberikan keleluasaan kepada sekolah memilih tiga kategori dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). KM 22 ini diharapkan mampu mewujudkan manusia seutuhnya dalam rangka menyiapkan generasi emas Indonesia.

Hasil musyawarah ISPI, “bahwa lapisan terdalam yang menjadi nukleus atau inti dari sebuah proses pendidikan adalah kehidupan manusia mulia, bermartabat, layak, dan berkelanjutan, tidak hanya sebatas memeroleh pekerjaan dan penghidupan (dalam Koran Kompas 23/6/2022). Tujuan sistem persekolahan bukan hanya mencetak pekerja terampil, tetapi masyarakat transformatif rasional, demokratis, mandiri, dan berkebudayaan Indonesia”.

Adanya penggantian kurikulum karena Pemerintah memandang perlu untuk mengadaptasi kemajuan pada perbagai bidang termasuk sektor pendidikan, supaya tidak ketinggalan zaman. Bangsa kita harus adaptif dan inovatif. Harapan terjadi manusia yang transformatif berbudaya, inovatif, kreatitf dan berkarakter Indonesia, dapat disiapkan melalui Kurikulum Merdeka ini. Semoga.***

Biodata Penulis :
Nama Lengkap (surat baptis): Adrianus, S.Si., M.Pd.
Tempat dan Tanggal Lahir: Rabak, 9 Januari 1972
Nomor KTP: 6171030901720008
Jenjang Sekolah Tertinggi: Sarjana Strata Dua (S-2)
Jurusan: Teknologi Pendidikan
Pekerjaan: Guru SMP dan SMA St Fransiskus Asisi
Jabatan: Wakil Kepala Sekolah bidang Humas
Alamat Kantor: Gg. Selat Sumba III, Siantan, Telp (0561) 881712
Handpone: 08125659172
Alamat rumah: Jln. Parit Pangeran, Kompleks Rejeki Permai Nomor 14, Siantan Hulu, Pontianak Utara, 78241
e-mail: philanuk_adrianus@yahoo.co.id

Share.

Leave A Reply