Memahami Literasi Dini Dalam PAUD

0

Fitri D. Abassuni, Praktisi Pendidikan

Pakar tumbuh kembang anak dari Universitas Airlangga DR. Dr. Ahmad Suryawan SpA(K) mengingatkan para orang tua untuk tidak mengajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung) sebelum sang anak masuk ke Sekolah Dasar (SD) atau berumur tujuh tahun karena mengajarkan anak calistung sebelum waktunya dapat merusak tatanan otak anak, dalam artian anak dalam mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras (Hidayatullah, 2015). 

Penemuan metode Glenn Doman yang mengajarkan anak-anak usia dini membaca menggunakan flash card telah memicu keinginan masyarakat untuk berlomba-lomba mengajarkan balita mereka membaca di usia sedini mungkin.  Adanya penafsiran dan pengeterapan kurikulum yang kurang pas di pendidikan dasar tingkat rendah (kelas 1-3 SD), dimana masuk SD harus sudah bisa baca, menyebabkan orangtua berbondong-bondong mendaftarkan balita-balita mereka untuk les baca.

Pro kontra tentang efek negatif mengajar calistung pada anak usia Taman Kanak Kanak (TK) terhadap perkembangan anak di kalangan pakar dan masyarakat pada dasarnya dipicu oleh pemahaman dan pembahasan literasi dini yang kurang komprehensif.  Literasi dini dipahami sebatas sebagai aktivitas membaca, menulis dan berhitung.  Dalam perspektif yang lebih sempit lagi, literasi dini dipahami sebagai proses decoding yang menggabungkan beberapa suku kata menjadi kata dan encoding yang mentransformasikan kata-kata yang didengar atau dipikirkan si anak menjadi susunan huruf dalam kata, frase hingga kalimat.  Meminjam istilah psikolinguistik, literasi dini dipahami dan dibahas sebatas proses pembelajaran sadar (conscious learning).

Literasi dini pada prinsipnya bukanlah tentang mengajarkan anak membaca dan menulis.  Literasi dini adalah sebuah tahap membangun kebiasaan dan kesenangan anak untuk belajar dalam suasana yang literatif. Neuman (2015) menjabarkan bahwa pendidikan anak usia dini dapat meningkatkan kesempatan anak mencapai kesuksesan jika (1) didukung oleh lingkungan yang memberi akses luas ke sumber-sumber membaca dan menulis, (2) kurikulum yang dikembangkan sesuai untuk melibatkan pikiran anak-anak secara aktif terlibat dan membangun pengembangan konsep dan bahasa mereka, (3) keterlibatan guru dalam pembelajaran anak-anak melalui percakapan, diskusi dan respon yang mungkin terhadap pertanyaan anak-anak, (4) rutinitas membacakan buku yang memperkenalkan anak-anak kepada beragam genre buku termasuk buku-buku informasi, narasi, puisi dan alfabet. 

Pemaparan anak pada suasana literatif akan meningkatkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjadi literat karena untuk bisa menjadi pembaca yang terampil, anak-anak membutuhkan dasar pengetahuan konseptual yang kaya bahasa, penguasaan kosa kata yang luas dan bermakna dalam serta kemampuan beralasan verbal untuk memahami pesan yang disampaikan melalui teks.  Selain itu anak-anak juga harus terlebih dahulu mengembangkan keterampilan kodifikasi berdasar kesadaran bunyi dari kata-kata yang diucapkan dan simbol-simbol aksara yang dieja.

Berdasarkan penjelasan Neuman tersebut dapat kita pahami bahwa literasi dini adalah pondasi yang sangat esensial untuk dibangun pada anak-anak di usia sedini mungkin dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan anak usia dini itu sendiri.  Literasi dini adalah bagian penting dalam pola pengasuhan anak dalam keseharian mereka di rumah dan di satuan pendidikan.   Literasi dini memberikan kesempatan dan menciptakan kondisi agar anak-anak usia dini bisa berbicara, didengarkan, dibacakan dan membaca.  Melalui literasi dini orangtua dan pendidik dapat dengan mudah membangun mental pembaca dan pembelajar dalam diri anak-anak usia dini. 

Kesalahkaprahan pengajaran literasi dalam pendidikan anak usia dini yang menerapkan conscious learning mengakibatkan para balita tumbuh menjadi anak-anak yang tidak gemar membaca karena belajar membaca menjadi suatu kegiatan yang tidak lagi menyenangkan anak-anak karena tidak sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak yang masih didominasi oleh kinerja otak bawah sadarnya (subconscious learning).  Selanjutnya, kegiatan belajar membaca yang tidak didasari oleh keterampilan literasi dini yang baik berpotensi mengakibatkan anak-anak memiliki keterampilan pemahaman bacaan yang rendah.  Bisa baca tapi tidak paham apa yang dibaca.  Oleh karena itu literasi dini perlu dipahami dan diterapkan secara benar agar anak-anak bisa tumbuh menjadi pembelajar yang literat.

Secara global, terdapat enam keterampilan literasi dini yang harus dikuasai anak-anak usia dini, yaitu (1) motivasi terhadap teks (print motivation) dan (2) kesadaran terhadap teks (print awareness)  yang dipaparkan dan distimulasi melalui aktivitas membacakan buku untuk anak dan membaca keras teks yang terdapat di markah, flash card dan media cetak lain, (3) keaksaraan (letter knowledge), (4) kosa kata, (5) keterampilan naratif atau bercerita (narrative skills) dan (6) kesadaran bunyi aksara (phonological awareness). 

Menurut Neuman (2015) ada empat dimensi kritis bahasa dan literasi di usia dini, yaitu: (1) bahasa yang meliputi kosa kata, sintaksis dan diskursus, (2) kesadaran bunyi aksara (phonological awareness), yaitu kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan terdiri dari bunyi yang direpresentasikan dalam aksara, (3) keaksaraan (letter knowledge) dan (4) wawasan (background knowledge).  Semakin banyak kosa kata yang dikuasai anak, semakin mudah anak-anak menguasai keterampilan membaca.  Semakin baik kesadaran bunyi aksara yang dimiliki, semakin mudah anak melakukan proses decoding untuk merangkai bunyi-bunyi aksara menjadi kata hingga kalimat.  Wawasan konsep berbahasa yang baik akan memudahkan anak untuk memahami teks yang mereka baca karena mereka dapat mengaitkan teks dengan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan sebelumnya.  Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa pada literasi dini, aktivitas membacakan buku pada anak sangat penting. 

Aktivitas membacakan buku pada anak pada prinsipnya adalah tentang memberi pengetahuan pada anak bahwa gambar yang mereka lihat terkait dengan teks yang dibacakan untuk mereka.  Dalam proses membacakan buku pada anak, koordinasi audio visual pada anak akan terlatih karena anak akan terbiasa mengikuti teks yang ditunjuk oleh pembaca buku sambil mendengarkan artikulasi dari teks yang dilihat.  Anak akan mendapatkan pengetahuan bahwa ada koneksi antara teks dengan cerita yang mereka dengarkan.  Sebuah aktivitas yang sangat sederhana dilakukan namun ternyata melibatkan proses psikolinguistik dan neurolinguistik yang sangat kompleks.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa literasi dini adalah elemen yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak usia dini.  Pemahaman yang tidak komprehensif bahkan salah tentang literasi dini berpotensi mengakibatkan rendahnya atau buruknya kemampuan literasi anak-anak di usia pendidikan dasar hingga pendidikan yang lebih tinggi. 

Literasi dini tak sekedar menjadi pondasi peningkatan keterampilan literasi dan kemampuan berbahasa pada anak, namun lebih jauh adalah sebagai pondasi bagi pembangunan karakter unggul pada anak melalui nilai-nilai yang kita tanamkan pada anak selama proses penerapan literasi dini berlangsung.  Untuk itu esensi dan pemahaman yang benar tentang literasi dini menjadi suatu hal yang urgent untuk disosialisasikan secara meluas agar dapat diterapkan dengan baik dan benar dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.  Salam literasi!

Share.

Leave A Reply