Mengawal Program Merdeka Belajar

0

Oleh: Edi Petebang

Merdeka belajar merupakan sebuah gagasan yang membebaskan para guru dan siswa dalam menentukan sistem pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai pendorong bagi perkembangan siswa, yaitu pendidikan mengajarkan untuk mencapai perubahan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Kementrian Pendidikan RI mencanangkan merdeka belajar. Apa saja komponennya? Kewajiban kita semua untuk mengawal program ini agar tujuannya tercapai.

Untuk membangun bangsa agar maju maka pendidikan yang berkualitas jadi sebuah keniscayaan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara konsisten terus melakukan transformasi pendidikan melalui terobosan merdeka belajar.

Merdeka Belajar merupakan terobosan yang dilakukan Kemendikbudristek untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan.

Esensi kemerdekaan berpikir, menurut Kemendikbudristek, Nadiem Makarim, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Dalam era merdeka belajar, sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.
Konsep Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Kebijakan merdeka belajar bukan tanpa alasan. Pasalnya, penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2019 menunjukkan hasil penilaian pada siswa Indonesia hanya menduduki posisi keenam dari bawah; untuk bidang matematika dan literasi, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara.
Menyikapi hal itu, Nadiem pun membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, dan kurvei karakter. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan beserta memahami konsep di baliknya. Untuk kemampuan numerasi, yang dinilai bukan pelajaran matematika, tetapi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata. Soalnya pun tidak, tetapi membutuhkan penalaran.

Satu aspek sisanya, yakni Survei Karakter, bukanlah sebuah tes, melainkan pencarian sejauh mana penerapan asas-asas Pancasila oleh siswa.

10 Merdeka Belajar
Secara global, perubahan untuk perbaikan sistem pendidikan nasional dilakukan melalui empat upaya perbaikan. Pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. Transformasi ketiga, yakni perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Sedangkan keempat, melakukan perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.
Merdeka Belajar dibagi dalam 10 (sepuluh) episode/tahapan. Dimulai dari episode pertama, yaitu menghadirkan empat pokok kebijakan agar paradigma tentang cara lama dalam belajar dan mengajar dapat diubah menuju kearah kemajuan.

Beberapa wujud dari empat pokok kebijakan itu adalah penghapusan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional.
Kemudian, ada juga kebijakan penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang lebih fleksibel.

Banyak guru dan sekolah menyambut bik kebijakan diatas. Misalnya menurut Kepala SMP Negeri 2 Pakem, Sleman, DIY, Tri Worosetyaningsih mengaku, para pendidik di sekolahnya tidak terbebani persoalan administrasi RPP lewat kebijakan tersebut. Sebaliknya, kata dia, guru menjadi lebih kreatif karena dapat menuangkan ide dan inovasinya dalam pembelajaran di kelas. “Siswa belajar menjadi lebih menyenangkan. Mereka bisa mengembangkan kreativitas dari apa yang mereka peroleh,” ujarnya seperti dimuat dalam Kompas.com, Senin (10/5/2021).

Pada episode kedua, program Kampus Merdeka telah diluncurkan. Kebijakan ini memberikan keleluasaan bergerak bagi perguruan tinggi maupun mahasiswa. Pergerakan yang dimaksud untuk bergerak maju guna mendukung peningkatan kualitas perkuliahan.

Salah satu mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Andhika Naufal Zein menyebut, kebijakan program tersebut dirasa mengasyikkan. Untuk diketahui, Andhika telah mengikuti program magang bersertifikat. Program ini merupakan bagian dari kebijakan Kampus Merdeka. “Selama magang, saya bisa menerima ilmu di luar bidang yang dipelajari di kampus. Hal ini menambah hardskill dan softskill kami,” kata Zein kepada Kompas.com, Senin (10/5/2021).

Merdeka Belajar episode ketiga berisi tentang kebijakan perubahan mekanisme penggunaan dan penerbitan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran (TA) 2020. Kebijakan ini mendapat apresiasi tinggi dari sekolah dan para guru.

Pada episode keempat, Kemendikbudristek meluncurkan program organisasi penggerak. Ini didasarkan pada perlunya dukungan berbagai pihak untuk pendidikan di Indonesia. Sebab, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Adapun Merdeka Belajar episode kelima mencanangkan program Guru Penggerak. Program ini menjadikan guru sebagai pendorong reformasi pendidikan Indonesia. Tujuannya untuk mendukung tumbuh kembang murid atau siswa secara holistik. Program guru penggerak mengajak para pendidik untuk melihat langsung di “lapangan”.
Pada Merdeka Belajar episode keenam, Kemendikbudristek melakukan transfigurasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi. Program ini mengharapkan agar perguruan tinggi menghasilkan lulusan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan secara langsung oleh dunia usaha dan industri. Selain itu, program ini juga mengharapkan lulusan perguruan tinggi memiliki kreativitas dan semangat kewirausahaan dengan kepekaan sosial serta perspektif global.

Merdeka Belajar episode ketujuh, yaitu program Sekolah Penggerak. Program ini diharapkan mampu mengakselerasi sekolah di seluruh kondisi untuk bergerak satu hingga dua tahap lebih maju. Sekolah Penggerak dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah penggerak.

Merdeka Belajar episode kedelapan telah ditetapkan kebijakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pusat Keunggulan (PK). Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Zainal Arief menyambut baik kebijakan tersebut. Menurutnya, program SMK Pusat Keunggulan bermanfaat untuk meningkatkan dan menguatkan pendidikan vokasi. Ia pun mencontohkan aksi perluasan jaringan dunia industri dan usaha sebagai mitra pembelajaran.

Merdeka Belajar episode kesembilan, kebijakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Merdeka diberikan untuk menjamin keberlangsungan kuliah bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu.

Merdeka Belajar episode sepuluh berupa perluasan program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Alumni penerima beasiswa LPDP Firman Parlindungan mengaku, dirinya berhasil menjadi doktor di usia 29 tahun dari universitas di Amerika Serikat (AS) dengan beasiswa LPDP. Melalui pengalaman tersebut, Firman memantapkan hatinya membangun tanah kelahirannya, Aceh Barat dengan profesinya sebagai dosen.

Kemendikbudristek menyatakan, sederet kebijakan Merdeka Belajar tersebut diluncurkan semata-mata untuk peningkatan kualitas pendidikan dan membentuk SDM unggul untuk Indonesia maju.

Tentu saja kita sangat berharap agar program, kebijakan di bidang pendidikan ini konsisten dilaksanakan, tidak sering berubah-ubah. Niat baik pemerintah di bawah Mendikbudristek Nadiem Makarim untuk meningkatkan kualitas output pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar, lanjutan sampai tinggi.

Sepuluh paket Merdeka Belajar tersebut sangat diharapkan mampu menciptakan siswa, mahasiswa yang belajar merdeka, belajar secara merdeka. Maksudnya para siswa dan mahasiswa diharapkan dengan sistem pendidikan yang baru ini lebih dituntut kemampuannya untuk merdeka berkreativitas, merdeka belajar aneka sumber pengetahuan dan bidang pengetahuan. Jika praktik belajar merdeka ini terlaksana dengan maksimal, maka peluang untuk menghasilkan lulusan SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi yang unggul sangat besar peluang pencapaiannya. Semoga. ***

(Penulis adalah Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat)

Share.

Leave A Reply